Tragedi BOM JW Marriot & Ritz Carlton

Nur Hasbi atau Nur Said penerus Dr. AzhariBom

Jakarta-HARIAN BANGSA

Nur Hasbi (NH) alias Nur Said sudah dipastikan bukan pelaku bom bunuh diri. Namun, nama Nur Hasbi sudah menjadi target operasi Densus 88 Polri. Dia diyakini terkait dengan bom JW Marriott Jakarta dan The Ritz-Carlton. Disebut-sebut dia perakit bom pewaris Dr Azahari.

Nur Hasbi alias Nur Said yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah, sudah tidak pernah pulang ke rumah orangtuanya sejak empat tahun lalu. Namun, menurut Hartoyo, kakak iparnya, Nur pernah mampir beberapa saat ke rumahnya di Dusun Seman, Desa Pager Gunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.

Densus 88 Polri pernah mencari Nur Hasbi pada 2004 lalu, saat polisi gagal menggerebek Noordin Moh Top di Wonosobo. Dia diduga sebagai anggota jaringan Noordin Moh Top dan Jamaah Islamiyah (JI). Tapi, apa peran Nur Hasbi alias Nur Said di jaringan itu, belumlah terang.

Polisi hingga kini masih menyelidiki peran Nur Hasbi dalam bom di Marriott dan Ritz-Carlton. Sumber detikcom mengatakan Nur Hasbi yang menggunakan yang memesan kamar 1808 JW Marriott melalui telepon. Namun, orang yang tertangkap CCTV saat check-in pada 15 Juli 2009 diyakini bukan Nur Hasbi. Orang yang tertangkap di CCTV adalah pelaku bom bunuh diri, yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

Namun diduga Nur Hasbi sempat berada di kamar 1808 sebelum bom itu meledak. “Dia yang merangkai bom. Dia pula yang mengemas bom itu di tas ransel dan tas laptop,” kata sumber itu.

Menurut dia, bom tidak dirakit di dalam kamar itu. Bom itu dibawa masuk melalui cara tertentu dan dalam bentuk bom yang sudah jadi. Yang dilakukan di dalam kamar itu hanyalah pengemasan bom.

“Jadi ada tiga bom. Dua bom dimasukkan ke dalam tas ransel yang dibawa pelaku bom bunuh diri, dan satu bom ditaruh di tas laptop yang siap diledakkan di dalam kamar itu,” ujar dia.

Peran Nur Hasbi diduga kuat sebagai perakit bom dan pengemas bom itu. Ada kemungkinan Nur Hasbi merupakan ahli bom baru setelah Dr Azahari tewas. “Saat bom meledak, Nur Hasbi memantau dari luar hotel,” kata dia.

Tapi benarkah informasi itu? Hingga kini, polisi masih terus menyelidiki ledakan bom di Marriott dan Ritz-Carlton itu. Polisi tidak mau membeberkan hasil penyelidikannya hingga penyelidikan selesai.

Kerja kelompok teroris yang meledakkan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton tidak mungkin hanya berdua saja. Pasti ada pengendali dan pengawas yang memantau peristiwa dari luar gedung.

“Pada mayoritas kasus bom bunuh diri, kasus tidak pernah tunggal, ada back-up. Di detik-detik terakhir yang pengebom diback-up timer, dengan teman yang meledakkan dengan remote,” kata mantan investigator bom Bali, Hermawan Sulistyo saat dihubungi melalui telepon, Jumat (24/7).

Dia menyebut ini bukan tanpa alasan, beberapa peristiwa bom bunuh diri yang lalu pun demikian. Misalnya saja bom Kuningan di Kedubes Australia pada 2004 lalu, Noordin M Top dan Dr Azahari mengawasi aksi itu dari atas motor.

“Ya pasti ada back-up. Mereka bekerja 4-5 orang, dan teman-temannya pasti ada. Dan ada yang memegang pengendali remote,” tambah Kiki, panggilan akrab Hermawan.

Menurut dia, para pengendali dan pengawas ini, berjaga-jaga bila pelaku bom bunuh diri tidak menarik picunya. “Pengawas selalu ada di antara mereka. Berjaga-jaga bila pembom grogi, biasanya mereka juga melihat keadaan setelah ledakan terjadi. Mereka ingin tahu efeknya,” jelas dia.

Belum kelarnya penyelidikan polisi pascapeledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Amerika Serikat (AS) dan Australia ‘berlomba’ memberikan bantuan kepada Indonesia. Jika Australia menawarkan bantuan analisa rekaman CCTV, maka AS menawarkan bantuan database teroris.

“Ada tawaran bantuan dari pihak Australia. Tawaran bantuan sudah kita sampaikan kepada yang berwenang, yang ditawarkan itu keahlian identifikasi rekaman gambar CCTV,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Teuku Faizasyah dalam press briefing di Kantor Deplu, Jl Pejambon, Jakarta, Jumat (24/7).

Sedangkan pemerintah AS menawarkan database para teroris yang mereka miliki untuk dicocokkan dengan pelaku teroris di Indonesia.

“Mereka (AS) memiliki database orang-orang pelaku yang terkait dengan terorisme dan itu bisa dibandingkan dengan data milik mereka,” imbuhnya.

Berarti bisa wawancara langsung dengan Hambali? “Wah kalau itu kita tidak tahu, yang jelas database forensik yang dimiliki AS,” jawabnya.

Dia menambahkan, semua tawaran bantuan ini sudah diteruskan ke Mabes Polri. Apakah diterima atau tidak, tergantung mereka yang menentukan. “Mereka menyatakan tawaran itu sudah diteruskan ke Mabes Polri. Itu berpulang ke Mabes Polri bagaimana menyikapinya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: